Dari Uang Jajan ke Investasi: Kisah Sunyi Anak Muda Menemukan Reksadana
3 mins read

Dari Uang Jajan ke Investasi: Kisah Sunyi Anak Muda Menemukan Reksadana


REWAKOFM, Makassar — Malam itu, Rian duduk sendiri di sudut kafe. Gelas kopi di depannya tinggal setengah, tapi notifikasi di ponselnya justru terasa lebih pahit: saldo rekeningnya nyaris kosong, padahal bulan masih panjang.Ia terdiam. Bukan sekali ini saja.
Sebagai mahasiswa berusia 21 tahun, Rian pernah hidup tanpa banyak pikir. Uang kiriman dari orang tua datang tiap bulan, dan hampir selalu pergi dengan cara yang sama—perlahan, tapi pasti. Nongkrong, kopi kekinian, belanja impulsif, hingga traktiran kecil untuk teman.
“Dulu rasanya biasa saja. Selama masih ada uang, ya dipakai. Tapi lama-lama capek juga… tiap akhir bulan selalu panik,” ujarnya pelan.
Ada satu titik yang ia ingat betul. Saat ia harus menahan diri untuk tidak ikut kegiatan kampus hanya karena tidak punya cukup uang. Bukan karena tak ingin, tapi karena tak mampu.
Malam itu menjadi semacam cermin. Sunyi, tapi menampar.
Sejak saat itu, Rian mulai mencari jawaban. Ia berselancar di media sosial, membaca artikel, menonton video—hingga satu kata terasa asing tapi terus muncul: reksadana.
Awalnya ia ragu. Baginya, investasi adalah dunia orang-orang “beruang”—mereka yang punya uang lebih, bukan mahasiswa yang harus menghitung sisa uang makan.
Namun rasa penasaran mengalahkan ketakutan. Rian mulai belajar perlahan. Ia menemukan bahwa reksadana tidak selalu butuh modal besar. Bahkan, ia bisa memulai dari nominal yang selama ini sering ia habiskan tanpa sadar.
“Waktu tahu bisa mulai dari Rp10 ribu, saya kaget. Saya pikir, ‘Ini serius?’” katanya, sedikit tersenyum mengingat momen itu.
Dengan sisa uang Rp50 ribu—yang biasanya akan habis untuk satu kali nongkrong—Rian mengambil langkah pertamanya. Ia membeli reksadana pasar uang melalui aplikasi di ponselnya.
Nominalnya kecil. Nyaris tak berarti.
Tapi bagi Rian, itu adalah titik balik.
Sejak saat itu, ada yang berubah. Bukan hanya cara ia mengelola uang, tapi juga cara ia memandang hidup. Ia mulai menahan diri, menimbang sebelum membeli, dan belajar bahwa kesenangan sesaat sering kali harus dibayar mahal di kemudian hari.
“Sekarang tiap mau jajan, saya mikir… ini kebutuhan atau cuma keinginan,” ujarnya.
Fenomena yang dialami Rian ternyata bukan cerita tunggal. Dewan Presidium Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia, Marsangap P. Tamba, menegaskan bahwa generasi muda kini menjadi motor utama pertumbuhan investor di Indonesia.
“Generasi muda kini mendominasi investor. Karena itu, pendekatan literasi harus lebih partisipatif agar masyarakat semakin memahami pentingnya investasi yang terencana,” jelasnya.
Data industri menunjukkan tren tersebut. Sepanjang 2025, industri reksadana di Indonesia mencatat pertumbuhan signifikan. Total dana kelolaan (asset under management/AUM) mencapai Rp679,24 triliun, meningkat 35,06 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp502,92 triliun. Secara keseluruhan, total dana kelolaan investasi bahkan menembus Rp1.007,65 triliun atau tumbuh 25,19 persen—menjadi capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Sementara itu, data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia menunjukkan jumlah Single Investor Identification (SID) telah mencapai 19,2 juta per akhir 2025, naik dari 18,6 juta pada 2024. Lebih dari separuh investor tersebut didominasi generasi muda berusia di bawah 30 tahun.

Menurut Perencana Keuangan, Andi Pratama, momentum ini menjadi peluang besar bagi generasi muda untuk membangun kebiasaan finansial yang sehat.
“Investasi itu bukan soal besar kecilnya uang di awal, tapi soal kebiasaan. Konsistensi jauh lebih penting daripada nominal,” ujarnya, Rabu (22/4).
Kini, Rian mungkin masih berada di awal perjalanan. Portofolionya belum besar, hasilnya belum terasa signifikan. Namun ada satu hal yang berubah: ia tidak lagi hidup tanpa arah.
Dari sisa uang jajan, ia mulai menata masa depan.
Dan di tengah pertumbuhan industri yang kian pesat, kisah kecil seperti Rian menjadi pengingat—bahwa investasi bukan lagi milik segelintir orang. Ia telah menjadi ruang belajar bagi siapa saja, bahkan bagi mereka yang memulai dari angka paling sederhana. (*/ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *